Thursday, 22 October 2020

Status Mensosmu

Akan tiba saatnya nanti, semua temanmu akan melihat namamu offline.


Mereka mengirim pesan lewat WhatsApp, tapi kamu tak menjawabnya.

Mereka chat di Messenger, tapi kamupun tak mampu membalasnya.


Pada hari itu, postinganmu tiba-tiba saja terhenti, tidak lagi update.


Kenapa ?


Karena saat itu kamu telah pergi meninggalkan dunia ini.


Ya, Kamu tidak akan pernah online lagi, tidak mampu reply chat, ataupun berkomentar pada postingan teman temanmu


Kamu tak lagi bisa mengedit statusmu atau postinganmu, atau sekedar meminta maaf kepada orang yang pernah kamu sakiti karena omonganmu.

Semua sudah  terlambat....


Ya, kamu sudah tak lagi bersama mereka.


Pada hari itu, kamu sedang terbujur sendirian di lubang kubur sempit dan terhimpit, sendirian menghadapi ujian.


Dan ketika kamu telah pergi, yang tertinggal hanyalah huruf - huruf di postinganmu.

Semua itu akan menjadi pembelamu atau mungkin malah akan membinasakanmu di alam sana.


Maka dengan itu, tulislah yang baik-baik saja saja, walaupun kita belum baik.

Sekurang-kurangnya kita terselamatkan dari dosa menulis yang buruk.


Tulislah yang baik-baik saja, bukan karena kita orang baik.

Tapi kita berusaha untuk menjadi baik.


Tulislah yang baik-baik saja, karena kita tahu itu perkara baik.

Dan apabila kita berikan yang baik, maka mudah mudahan perkara yang baik itu kembali

kepada kita.


Tulislah yang baik-baik saja, karena kita mau yang baik-baik itu yang tertinggal, apabila kita sudah pergi.


Bicaralah yang baik baik saja,

Tulislah yang baik-baik saja.


Karena yang baik itu semuanya bernilai ibadah. 

Walaupun hanya sekadar Copas, senyum ataupun bersangka baik.


Berusahalah menjadi orang yg bermanfaat bagi orang lain, meski cuma sebatas tulisan sederhanamu.


Jangan menjadi penyebab orang lain bertambah lebih buruk, karena ketikan jari jemarimu.


#pengingatdiri

Ibuku Orang Gila

 Sini, Fem ! Gabung sama kami." Seru Mbak Nita sembari melambaikan tangannya ke arahku.


Aku mendekati mereka sembari tersenyum. Sedang ibu hanya memandangiku yang kelelahan.


"Barusan ada telepon gelap. Isinya ancaman. Katanya, mata-mata kita yang ada di Bu Anggun akan mereka bunuh. Ibu paham maksudnya apa ?" Tanyaku pada ibu.


Ibu terlihat sedikit terkejut lalu air mukanya kembali tenang.


"Mata-mata ibu ya Nita ini. Dan mungkin akan muncul lagi seorang." Jawab ibu.


Aku mengerling pada ibu. Seorang mata-mata lain akan muncul ? Siapakah sosok yang akan muncul itu ?


"Oh ya, Nit. Bagaimana kabar Koco ?"


Ibu memandang cemas pada Mbak Nita. Sedang Mbak Nita membetulkan letak duduknya lalu badan agak dicondong ke depan.


"Sepertinya dia sudah menemukan apa yang selama ini mama sembunyikan. Hanya masalah waktu saja dia akan merapat ke pihak kita. Yang pasti dia sedang syok. Beberapa kali dia terlihat agak menjaga jarak dengan mama." Jelas Mbak Nita setengah berbisik.


"Mbak Nita ke sini sama siapa ?" Tanyaku setelah ingat ada sosok mencurigakan di depan sana.


"Sama intel sewaanku. Masihkah dia berjaga di luar ? Itu tuh yang pakai jaket hitam."


"Ohhh yang pakai topi warna coklat itu ?" Tanyaku.


"Iya, betul."


Aku mengehela nafas lega. Aku takut dia anak buah Bu Anggun. Mbak Nita sedang asyik memainkan ponselnya hingga mendadak dia berdiri dengan mata melotot.


"Fem ! Kamu sudah baca ini ?" Kata Mbak Nita sembari mengarahkan ponselnya ke arahku.


"Hah ?? Apa maksudnya ini ?" Tanyaku tak mengerti.


"Tahu Pak Yusuf, bloger kuliner ternama nasional ? Dia ingin menantang mama juga kamu untuk duel terbuka membuat roti . Katanya ini adalah salah satu cara untuk membuktikan siapa penjiplak dan pemilik asli dari resep roti kalian. Wow ... gak nyangka banget akan menuai reaksi begini dahsyat dari bloger terkenal. Bagaimana, Fem ?"


"Aku terserah ibu." Jawabku datar.


"Apa Anggun sudah menerima tantangan ini ?" Tanya ibu.


"Tampaknya mama belum menjawab. Ini momentum kalian. Aku yakin saat kalian menerima tantangan ini, mama pun tak akan bisa mundur. Ini pernyataan perang kita pada mereka !" Kata Mbak Nita berapi-api.


Ibu mengangguk padaku. Rupanya tantangan terbuka ini diterimanya dengan senang hati.


"Bagi link-nya. Aku mau menjawab tantangan ini." Kataku bersemangat.


Dan dalam waktu singkat Fem-Nur Bakery menyatakan kesanggupannya untuk duel terbuka dengan Anggun Bakery. Dan komentarku itu langsung mendapat respon luar biasa dari warganet. Tapi lama kami menunggu, pihak Anggun Bakery masih bungkam. Aku yakin Bu Anggun sedang kebakaran jenggot sekarang. Lalu setelah agak lama menunggu, sebuah jawaban muncul di sana. Anggun Bakery menyatakan kesediaannya untuk berduel. Kami bertiga melonjak-lonjak bahagia. Bertiga kami membahas strategi untuk menghadapi Bu Anggun.


"Jadi ... bisa dikatakan, mama tak pernah ikut membuat roti. Dia hanya memegang sesekali manakala chef utama kami sedang cuti. Nah karena ini duel berpasangan, kemungkinan pasangan mama adalah Chef Arya."


"Kalau Bu Anggun tak pernah mengadon, darimana Chef Arya itu belajar resep roti yang sangat sulit itu ?" Tanyaku penasaran.


"Chef Arya itu profesional yang sangat mumpuni. Setahuku dia mempunyai basic dunia roti yang kuat. Jadi hanya bermodal buku resep yang telah mama curi dari ibuk, dengan mudah Chef Arya mempelajarinya."


"Bisa aku bayangkan betapa repotnya Anggun bila kehilangan Arya itu. Lalu adakah chef lain yang bisa diandalkan selain Arya itu ?" Tanya ibuku.


"Hampir bisa dikatakan tidak ada. Yang lain hanya membantu saja. Tak ada yang tahu cara membuat roti dari awal." Jawab Mbak Nita.


"Lalu resep roti apa yang akan kita bawakan ?" Tanyaku bingung.


"Ibu tahu, Nak. Ada satu resep yang Anggun tahu tapi tidak ada di daftar roti Anggun Bakery. Kita buat itu dan dua resep roti andalan Anggun Bakery. Bagaimana ?"


Aku dan Mbak Nita mengangguk-angguk setuju.


~~~~


Aku menghela nafas dalam. Mengosongkan paru-paruku dan mengganti dengan udara yang segar. Duel berpasangan ini dilaksanakan di area taman terbuka dengan latar belakang pemandangan pegunungan yang berderet rapi. Setidaknya suasana nan asri ini bisa membuat hatiku lebih tenang. Maklum inilah kali pertamaku membuat roti di depan umum setelah tanganku hancur.


Wara-wiri awak media lokal maupun nasional sibuk dengan persiapan masing-masing. Beberapa kamera siaran langsung pun berderet rapi di depan panggung minimalis. Di sana terdapat dua meja panjang dengan segala peralatan untuk kami membuat roti. Jantungku tak karuan manakala melihat panggung itu. Perasaanku sangat gugup mengingat itu bukan hanya sekedar panggung bagiku. Tapi medan perang.


Dari kejauhan aku melihat Bu Anggun telah tiba di lokasi. Dia mengenakan baju putih khas chef profesional. Berbanding terbalik dengan penampilan kami yang "merakyat". Ibu memakai hijab, sedang aku hanya memakai ikat kepala dan berkaos sederhana. Ini bukan ajang perang penampilan tapi perang keterampilan. Mata sinis Bu Anggun sungguh mengintimidasi. Tapi aku dan ibu sudah membulatkan tekad.


"Tolong untuk kedua peserta duel terbuka berpasangan, silahkan menyiapkan diri masing-masing pada tempat yang sudah dipersiapkan." Kata seorang kru.


"Aturan mainnya adalah di sini kami mengundang 50 orang juri dari berbagai kalangan dan latar belakang. Mereka yang akan mencicipi roti dari masing-masing peserta dan menilai dengan memasukkan kode peserta ke dalam toples ini. Dan setiap peserta wajib membuat dua macam roti yang akan kami undi sebentar lagi. Selain dua macam roti yang telah ditentukan, peserta wajib membuat roti dengan varian baru sebagai resep roti inovatif. Dan untuk roti inovatif ini, peserta bebas memilih dan menentukan resep sendiri. Jadi nilai maksimal untuk peserta adalah 150 poin untuk tiga macam roti. Sekian infonya." Kata kru yang tadi.


"Dan Pak Yusuf selaku penggagas acara duel terbuka berpasangan antara Anggun Bakery dan Fem-Nur Bakery, telah menentukan roti apa yang akan dibuat. Dan inilah jenis rotinya. Roti yang pertama adalah roti susu dengan isian coklat lumer dan susu. Sedang yang kedua adalah roti sobek dengan isian 5 variasi yaitu ayam, daging, coklat, kacang hijau dan selai stroberi. Untuk itu, waktu akan dimulai pada hitungan ketiga. Satu ... dua ... tiga ! Silahkan dimulai !"


Aku dan ibu cukup santai. Kedua roti itu adalah roti andalan kami. Setiap hari kami membuatnya. Tentu itu bukan hal yang terlalu sulit. Tapi kami tak boleh gegabah. Bu Anggun dan Chef Arya merupakan saingan yang berat. Tak seharusnya kami meremehkan mereka. Tangan dan pikiran kami fokus ke adonan. Setiap resep, kami harus membuat sekitar 55 buah roti. Tentu saja roti yang 5 itu adalah roti cadangan. Silih berganti kami membuat adonan.


Dan selesailah kami membuat dua macam roti tadi. Dan kami melaluinya dengan lancar. Dan bisa dibilang sukses. Aku melirik Bu Anggun. Walau terlihat agak kerepotan akhirnya mereka rampung juga. Dan inilah saat mendebarkan kami. 50 orang yang hadir kini muli berbaris di depan meja. Tumpukan roti yang masih mengepul hangat mulai berkurang satu persatu. Dan hatiku begitu bahagia manakala 5 roti yang aku siapkan untuk cadangan ternyata ikut ludes juga. Aku tersenyum senang.


Satu persatu para juri memasukkan suaranya ke toples penilaian. Dalam hati aku menghitung berapa banyak nilai yang ku kumpulkan. Tapi hatiku berakhir dengan kecewa. Dari 100 nilai, aku dan ibu mendapat total nilai 41. Itu berarti pihak Bu Anggun mendapatkan suara 59. Selisih yang cukup besar. Dan entah kenapa melihat senyum kemenangan Bu Anggun membuatku terpuruk.


"Tetaplah jaga semangatmu. Ini bukanlah akhir. Lihatlah, bersaing dengan toko yang sudah memiliki nama besar jarak selisih kita sudah cukup bagus. Itu berarti kehadiran kita sebagai pebisnis baru di ladang dunia roti ini sudah terbilang sukses. Jangan berkecil hati. Kita belum kalah. Ibu yakin di resep ketiga ini, kita akan menang telak." Kata Ibuku dengan tatapan mata penuh kepercayaan diri.


Melihat semangat ibu yang masih membara, aku menjadi lebih bersemangat sekarang. Aku harus bisa menjadi partner yang hebat untuk ibu. Kalau kami kalah, setidaknya kami kalah dengan terhormat.


Babak kedua kini akan di mulai. Aku melihat ibu mengeluarkan jamur dan sayuran dari bawah meja. Dengan sedikit heran aku melihat dia sibuk membuat isian untuk roti ketiga kami. Dan aku masih bertugas untuk membuat adonan. Bau harum dari sayuran dan jamur itu sungguh menggugah selera. Setelah selesai membuat isian, ibu menurunkan oven. Lalu dia menyalakan kompor. Diratakannya adonan rotiku dengan membuat setengah lingkaran. Lalu dengan sigap, ibu mulai memberi adonan itu isian. Aku hanya memandang heran. Ibu membuat roti dengan isian sayur dan jamur tiram. Sungguh terasa asing bagiku. Aku melirik meja sebelah. Di sana menguar aroma roti yang harum . Sedang ibuku bukannya memasak dengan oven. Melainkan dengan dipanggang di atas panggangan dari tanah. Aroma roti yang agak sedikit terbakar itu kini berubah menggugah selera. Aku menelan saliva, ada rasa lapar yang menyelimuti perutku. Sarapanku tadi pagi bagaikan tersedot oleh aroma roti panggang ibu. Beberapa wartawan pun sibuk memotret dan mengambil video ibu.


"Kalau boleh tahu, roti apa yang sedang Anda buat, Bu Femnur ?" Tanya seorang juri.


"Ini adalah roti legendaris di hidup saya. Namanya adalah Roti Isi Kenangan." Kata Ibu pelan.


"Waaaaah ... nama yang sangat unik. Kalau boleh tahu apa yang membuat Anda menamainya demikian ?" Tanya wanita itu lagi.


"Ini adalah roti yang selalu saya buat untuk adik saya. Setiap kali dia pulang dari kebun, roti ini selalu saya sediakan untuk dia. Berdua kami duduk di depan tungku api sembari memanggang roti dengan menggunakan genteng tanah liat. Sembari menunggu roti matang, kami berdua bersenda gurau sembari berbagi cerita tentang cita-cita kami di masa depan." Kata Ibu sembari terhanyut dalam buaian kenangan masa lalu.


"Lalu dari mana ide ini berasal yang membuat Anda berkreasi dengan membuat roti dengan isian sayuran dan jamur ?" Tanya seorang wartawan.


"Isian ini saya buat dari bahan-bahan seadanya di dapur rumah sederhana kami. Kami dapatkan sayuran ini dari kebun belakang dan jamur dari tempat ibu bekerja." Kata Ibu tenang.


"Waaaah ... sungguh beruntung sekali adik Anda itu karena mempunyai kakak yang begitu sayang dan perhatian padanya. Sungguh kreasi yang menakjubkan." Kata wartawan pada ibu.


"Terimakasih. Ini adalah roti pertama setelah bertahun-tahun lalu tidak saya buat." Terang ibu.


"Kenapa tak Anda pasarkan saja di toko roti yang kini Anda rintis ?" Tanya salah seorang juri pria.


"Karena roti ini berisi kenangan indah masa muda yang telah saya lewatkan dengan adik saya. Bisa saya katakan, ini adalah roti milik kami. Jadi saya hanya akan membuatnya kalau ada adik saya di sini." Kata ibu sembari tersenyum manis pada kamera.


"Berarti saat ini adik Anda sedang di sini ? Bisa kenalkan kami padanya ?" Tanya wartawan pada ibu.


"Iya dia ada di sini. Tapi sayangnya dia tak bisa menemui Anda semua. Karena sifatnya yang pemalu juga kini dia sedang sakit." Kata ibu.


"Waaaah sayang sekali, ya ? Kalau boleh tahu, adiknya sakit apa ?" Tanya juri pria berjas hitam.


"Adik saya sedang amnesia. Dia kehilangan ingatannya. Dan tentu saja ingatan tentang masa-masa kami muda dulu juga ikut terhapus dari memorinya. Jadi inilah kenapa saya membuat roti ini, karena berharap ingatan yang hilang dari adik saya bisa kembali pulih." Kata ibu sembari melirik Bu Anggun.


Bu Anggun pura-pura tak mendengar. Tapi jelas terlihat sekali dia gemetar. Tangannya bergetar hebat bahkan sendok gula yang dia pegang pun terjatuh. Oh ... jadi ini jurus pamungkas yang ibu katakan ? Tapi aku kagum dengan ibu. Walau adiknya pernah ingin melenyapkan nyawanya, ibu tetap bisa menjaga reputasi Bu Anggun. Andai itu aku, pasti dengan lantang akan aku bongkar semua kejahatan Bu Anggun pada media. Mumpung para wartawan banyak berkumpul di sini.


Dan sesi paling mendebarkan pun terjadi. Proses penilaian dari juri pun berlangsung. Banyak orang yang mencicipi roti buatan ibu. Mereka penasaran dengan rasa roti yang dipanggang di atas panggangan tanah. Macam-macam reaksi orang, ada yang bilang roti jadul yang sehat. Ada yang bilang roti unik nan lezat. Bahkan tak sedikit yang membujuk ibu agar memproduksi roti isi kenangan itu di toko kami.


Dan inilah penghitungan finalnya. Jantungku berdebar-debar tak karuan. Nasib kami benar-benar bergantung dari hasil penilaian resep ketiga ini. Dan kini Pak Yusuf sudah berdiri di depan panggung. Bersiap untuk membacakan hasilnya pada kami semua. Aku menahan nafas.


"Ya ... inilah hasil perhitungan kedua babak pada hari ini. Babak pertama dengan dua resep. Hasilnya adalah Anggun Bakery memiliki poin 59 dan Fem-Nur Bakery memiliki poin 41. Sedang untuk babak kedua dengan resep roti inovatif, pemenangnya adalah Fem-Nur Bakery dengan jumlah poin 35. Jadi Anggun Bakery memiliki 15 suara. Dan untuk juara umumnya, jumlah total poin 150. Anggun Bakery mendapat total poin 74. Sedang Fem-Nur Bakery memiliki total poin 76. Dan bisa kita simpulkan bersama, kemenangan event hari ini diraih oleh Fem-Nur Bakery dengan selisih poin sangat tipis yaitu 2 poin. Sungguh persaingan yang sangat ketat ya ?" Kata Pak Yusuf takjub.


Aku dan ibu sontak berpelukan bahagia. Tak menyangka kami bisa menang dengan selisih sangat tipis itu. Tapi di babak kedua kami menang telak. Resep rahasia ibu memang luar biasa. Alhamdulilah !


~~~~


Setelah acara penyerahan hadiah, aku tak melihat batang hidung ibuku. Aku mencari ibu ke mana-mana. Tapi tak jua ku temukan. Tapi akhirnya aku melihat ibu berdiri di bawah pohon besar yang terletak cukup jauh dari area kompetisi. Dengan langkah mengendap-endap aku mendekati wilayah itu. Tampak Bu Anggun sedang berkacak pinggang membelakangi ibuku. Lalu saat dia berbalik, aku menahan nafas. Bu Anggun menangis ! Aku yang makin penasaran, merayap makin mendekat ke tempat itu.


"Sekarang kamu puas, Mbak ? Puas sudah menghancurkan aku ?" Kata Bu Anggun.


"Aku sedang tidak menghancurkanmu, Nggun. Tapi menyelamatkanmu dari apa yang bukan milikmu. Rasa serakah yang kau miliki membuatmu melewati batas. Bila kau lanjutkan kesalahanmu itu, masih pantaskah kau disebut manusia ?"


"Biar saja aku melewati batas, Mbak. Tapi ini adalah pilihan hidupku. Kau tak pernah tahu dalam hatiku. Hatiku begitu tersiksa dan terluka karena kau !" Kata Bu Anggun sembari menuding ibuku.


"Apa salahku hingga membuatmu begini ? Tak sadarkah kau, kalau kita ini saudara ? Kita berasal dari nutfah dan rahim yang sama. Kita tumbuh di atap rumah yang sama. Tapi kenapa kau mencoba mengingkarinya ?"


"Basi sekali kau ungkit soal persaudaraan kita sekarang. Andai aku bisa memilih, aku tak mau menjadi adikmu. Tak sudi aku menjadi saudaramu. Tadi kamu juga sengaja kan ? Membuat roti kenangan itu ? Sengaja memojokkanku dengan bilang kalau aku ini amnesia ! Hatimu kejam, Mbak !" Seru Bu Anggun dengan wajah seramnya.


"Justru aku melindungi reputasimu, Nggun. Aku tak membuka semua kejahatanmu."


"Halaaaah ! Aku tau kau hanya pura-pura, Mbak. Dari dulu kau selalu begitu. Pura-pura baik agar semua orang menyukaimu dan mengasingkan aku !"


"Aku tulus sayang padamu ! Aku tak bersandiwara !"


"Bohong ! Mentang-mentang kau penyakitan, ibu lebih memilih menyuruhku ke ladang. Ke kebun mencari kayu. Ke kali mengambil air dan mencuci. Sementara kau di rumah saja. Berteduh dari panas dan hujan. Sedang aku berpeluh kepanasan. Dan menggigil kedinginan karena hujan. Aku membawa dua kendi penuh berisi air, kau hanya duduk di rumah bebas mandi dan membuang air sesukamu. Aku dekil dan kotor, kau bersih dan terawat. Kau cantik bak putri raja, aku jelek bak pembantu buangan. Apa aku salah, bila meminta sedikit bagian bahagiaku ??"


Aku terduduk lemas mendengar semua penuturan Bu Anggun. Tak ku sangka dia memiliki luka mendalam di usia yang muda.


"Dan tahu apa yang membuat pertahanan terakhirku runtuh ?? Saat ibu Mas Indro Sukoco lebih memilih menjodohkanmu dengan anaknya ketimbang aku yang jelek rupa ini. Bahkan kau pun tahu, kalau aku ada rasa pada Mas Indro. Tapi apa ? Tanpa peduli sudut hatiku yang terluka, aku melihatmu tersenyum tersipu malu sembari mengangguk tanda kau terima pinangan keluarga Indro. Aku sakit, Mbak ! Alih-alih diriku yang sehat dan lincah menjadi istri Indro, kau yang pintar memasak lah yang menarik hati Indro. Tanpa mereka tahu, kau bisa memasak karena air yang ku bawa susah payah dari sungai. Kau bisa tetap berkulit bersih karena semua yang aku lakukan di ladang. Kau bisa memasak enak karena kayu bakar yang aku kumpulkan ! Kau bisa bertengger di posisi itu karena peluh keringatku ! Sekarang kau mengaku kalau kita bersaudara ?? Tak tahu diri sekali dirimu !"


Ibu langsung jatuh terpuruk. Air matanya berlinang. Bibirnya bergetar hebat. Mungkin selama ini ibuntak tahu perihal hati adiknya. Mungkin ibu berpikir adiknya baik-baik saja. Tapi diam-diam adik semata wayangnya terluka dalam hening. Badan ibu bergetar tak karuan. Antara marah,penyesalan juga kesedihan yang teramat dalam.


"Itukah kenapa kau tega berniat membunuhku ? Hingga kau tega menabrak Indro hingga dia amnesia ? Lalu tanpa ampun kau ingin menghancurkn anakku ? Lalu tanpa rasa bersalah kau hidup mewah di istana dengan resep-resep curianmu?" Kata ibu pelan sembari air mata mengalir deras.


"Ahahahaha ... asal kau tahu, aku sudah berusaha untuk main halus pada kalian. Aku mencoba berbagai cara untuk memisahkan kalian. Aku rela hidup bak budak buangan, tapi hatiku tak rela bila lelaki yang paling ku inginkan kau rebut juga. Bahkan aku pun bisa membunuh ibu Mas Indro Sukoco. Menurutku berawal dari wanita peot itulah tragedi ini terjadi. Andai dia tak berniat menjodohkan kalian, aku yakin semua tak akan menjadi seperti ini. Tapi rupanya diam-diam kalian menikah siri dan berniat pindah ke kota . Tentu saja aku makin kalap. Tapi aku tak menyangka dalam perutmu sudah ada janin dari Indro Sukoco itu. Itulah kenapa, walau aku masih ada rasa cinta pada Koco tapi aku perlakukan dia bagai anjing. Karena aku dendam padanya yang lebih memilihmu daripada aku."


Aku melongo luar biasa. Jadi ini cerita lengkap kisah piluku ? Jadi benar bila ayahku Indro Sukoco ? Jadi Pak Koco itu amnesia ? Ya Allah ... Bu Anggun sungguh mengerikan. Tapi hal mengerikan lainnya rupanya sedang terjadi. Tak jauh dari tempatku bersembunyi ternyata ada sosok lain yang berdiri di sana. Matanya memerah bak singa marah. Tangannya terkepal kuat seakan-akan menunjukkan betapa marah dan emosi dirinya. Dan dari semak tempat ku bersembunyi, aku menggigil ketakutan. Aura menakutkan dan mencekam menyelimuti area itu. Lututku bergetar saling bersentuhan saking takutnya.


~~~~BERSAMBUNG~~~~

Friday, 9 October 2020

ZAKAT YANG TIDAK SAH

stadz Ammi Nur Baits

    

Ada orang yang baru keterima kerja. Gaji pertama 5 jt/bln. Setiap kali dia mendapat gaji, dia zakati 2,5%.


Alasannya, dari pada zakatnya diakhirkan, lebih baik dicicil setiap bulan. Jadi tabungannya semua sdh dizakati. Sehingga, nanti tidak perlu dizakati. Katanya, ini zakat profesi.


Apakah zakatnya benar? mohon pencerahnnya..


Jawab:


Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,


Zakat, tidak seperti sedekah atau infak yang sifatnya anjuran. Zakat itu kewajiban yang ada ukurannya. Islam memberikan aturan khusus untuk zakat. Sehingga, tidak semua bentuk memberikan harta kepada fakir miskin, bisa disebut zakat.  Memberikan harta kepada fakir miskin hanya bisa disebut zakat, jika memenuhi aturan zakat. Jika tidak sesuai aturan, itu bukan zakat.


Sebagaimana shalat, di sana ada rukun dan syarat. Jika itu shalat wajib, di sana ada ketentuan mengenai waktu pelaksanaan. Orang hanya boleh shalat subuh, setelah terbit fajar shodiq. Orang yang shalat 2 rakaat 5 menit sebelum terbit fajar, tidak disebut shalat subuh, meskipun dia niat untuk shalat subuh.


Ketentuan umum zakat, dinyatakan dalam hadis dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


فَإِذَا كَانَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا نِصْفُ دِينَارٍ ، فَمَا زَادَ فَبِحِسَابِ ذَلِكَ


Jika kamu memiliki 20 dinar, dan sudah genap selama setahun, maka zakatnya ½ dinar. Lebih dari itu, mengikuti hitungan sebelumnya. (HR. Abu Daud 1575 dan dishahihkan al-Albani).


Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan adanya nishab dan haul untuk zakat mal. Dan ini aturan baku. Siapapun tidak dibenarkan untuk membayar zakat dengan aturan berdasarkan inisiatif pribadi. Karena ibadah itu wahyu dan bukan berdasarkan inisiatif manusia.


Nishab, Sebab Wajibnya Zakat


Nishab adalah batas minimal harta yang wajib dizakati. Selama seseorang belum memiliki harta satu nishab, tidak ada kewajiban zakat baginya. Karena itu, membayar zakat sebelum nishab, sama dengan membayar zakat sebelum ada sebabnya. Para ulama meng-analogikan ini seperti orang shalat sebelum masuk waktu.


Untuk itulah ulama sepakat tidak boleh membayar zakat sebelum memiliki harta satu nishab.


Ibnu Qudamah mengatakan,


ولا يجوز تعجيل الزكاة قبل ملك النصاب بغير خلاف علمناه ، ولو ملك بعض نصاب فعجل زكاته أو زكاة نصاب : لم يجُز ؛ لأنه تعجَّل الحكم قبل سببه


Tidak boleh mendahulukan zakat sebelum memiliki harta satu nishab, tanpa ada perbedaan pendapat ulama yang kami tahu. Jika ada orang memiliki harta separuh nisab, lalu dia menyegerahkan zakat, atau dia bayar zakat satu nishab, hukumnya tidak boleh. Karena dia mendahulukan hukum sebelum sebab. (al-Mughni, 2/495)


Dalam Ensiklopedi Fiqh juga dinyatakan,


لا خلاف بين الفقهاء في عدم جواز التكفير قبل اليمين ؛ لأنه تقديم الحكم قبل سببه ، كتقديم الزكاة قبل ملك النصاب ، وكتقديم الصلاة قبل دخول وقتها .


Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang tidak bolehnya membayar kaffarah sumpah sebelum ada sumpah, karena berarti mendahulukan hukum sebelum ada sebabnya. Seperti mendahulukan zakat sebelum memiliki satu nishab, atau mendahulukan shalat sebelum masuk waktunya. (al-Masusu’ah al-Fiqhiyah, 35/48)


Kami tegaskan ulang, kesimpulan bahwa membayar zakat sebelum nishab, zakatnya tidak sah. Tidak sah dalam arti tidak terhitung sebagai zakat. Meskipun dia mendapat pahala sedekah dari harta yang dia berikan ke fakir miskin.


Kasus Zakat Bulanan


Ketika si A memiliki gaji 5 jt/bulan, secara perhitungan, dalam setahun pemasukan si A senilai 60 jt. Nilai ini di atas satu nishab. Apakah si A wajib zakat?


Bahwa yang dihitung dari zakat adalah tabungan, akumulasi uang mengendap, dan bukan akumulasi pemasukan. Pemasukan si A 5jt/bln. Tapi jika dikurangi biaya hidup dan semua pengeluarannya, si A hanya menyisakan Rp 1 jt yang bisa ditabung.


Jika penghasilan si A hanya ini, sementara dia tidak punya tabungan, maka si A tidak wajib zakat. Dalam waktu setahun, tabungan si A baru terkumpul 12 jt.


Itu artinya, jika si A membayar zakat 2,5% dari sejak dia mendapatkan gaji di bulan pertama, berarti si A membayar zakat sebelum memiliki harta satu nishab. Dan tentu saja, tidak sah sebagai zakat, meskipun dia mendapat pahala sedekah.


Jika kita asumsikan kondisi si A selalu stabil, maka dia baru memiliki harta 1 nishab, setelah kurang lebih 3,5 tahun bekerja. Sehingga si A memiliki tabungan 43 juta. Di titik itu, si A baru memiliki harta satu nishab. Tapi si A belum diwajibkan bayar zakat. Sampai uang itu mengendap selama setahun.


Sisi Negatif  Zakat Profesi


Fokus di pertanyaan.


Masyarakat menganggap model zakat semacam ini dengan zakat profesi. Setidaknya ada 2 konsekuensi buruk ketika zakat profesi diterapkan,


[1] Orang yang belum memiliki harta sebesar nishab, membayar zakat. Padahal itu zakat sebelum ada sebabnya. Dan ulama sepakat, zakatnya tidak sah.


[2] Muncul anggapan tidak lagi wajib zakat karena sudah dikeluarkan zakat profesinya setiap bulan ketika menerima gaji. Padahal dia punya tabungan di atas nishab tersimpan tahunan, yang seharusnya itu dizakati.


Dari kasus si A. Dengan asumsi penghasilan si A tetap, mungkin di tahun keempat, si A tabungannya menjadi 48  jt. Di atas nishab. Tapi si A merasa dia sudah zakat, sehingga tidak bayar zakat lagi. Padahal tabungan itulah yang seharusnya dizakati.


Menurut mayoritas para ulama kontemporer bahwa zakat profesi tidak dikeluarkan pada saat diterima akan tetapi digabungkan dengan uang yang lain yang mencapai nishab dan mengikuti haulnya (berlalu 1 tahun qamariyah).


Pendapat ini juga merupakan hasil keputusan muktamar zakat pertama se-dunia di Kuwait pada tahun 1984, yang berbunyi,


”Zakat upah, gaji dan profesi tidak dikeluarkan pada saat diterima, akan tetapi digabungkan dengan harta yang sejenis lalu dizakatkan seluruhnya pada saat cukup haul dan nishabnya.”


Kisah: Penghasilan Milyaran, Tidak Wajib Zakat


Berpenghasilan besar, belum tentu mendapat kewajiban zakat. Karena zakat hanya dibebankan untuk orang yang memiliki harta mengendap satu nishab selama setahun.


Meskipun seseorang memiliki harta di atas satu nishab, namun habis sebelum satu tahun, dia tidak wajib zakat.


Dulu ada ulama besar yang Allah berikan kekayaan melimpah, namun beliau tidak pernah berzakat. Karena hartanya habis sebelum genap setahun. Beliau adalah al-Laits bin Sa’d rahimahullah.


Qutaibah menceritakan,


كان الليث يستغل عشرين ألف دينار في كل سنة وقال ما وجبت علي زكاة قط


Penghasilan Al-Laits mencapai 12.000 dinar dalam setahun. Dan beliau mengatakan, “Aku tidak pernah mendapat kewajiban zakat.”


12.000 dinar itu berapa rupiah?


25.500.000.000. Biar gampang bacanya, kita ringkas: 25 M + 500 jt.


Mengapa beliau tidak pernah zakat?


Uang itu habis sebelum haul.


Beliau pernah memberikan 1000 dinar ke Manshur bin Ammar,


1000 dinar kepada Ibnu Lahai’ah (seorang ulama hadis).


500 dinar kepada Imam Malik, dst.


dan masih banyak lagi yang belum tercatat.


Allahu a’lam.


Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)


Read more https://konsultasisyariah.com/28026-zakat-yang-tidak-sah.html

SAYANGI ISTRI DENGAN TULUS KARENA ALLOH


Dalam Islam, doa seorang istri menjadi salah satu doa yang paling dijabah atau dikabulkan. Keajaiban doa istri mampu membawa kehidupan keluarganya menjadi lebih baik.


Hal ini pernah dinyatakan oleh Rasulullah SAW yang mengatakan,


“Sesungguhnya doa yang segera dikabulkan adalah doa seorang istri kepada suaminya yang tidak berada di tempat yang sama atau saling berjauhan.” (HR. Tirmidzi).


Di balik kesuksesan seorang suami, pasti ada istri yang selalu mendampingi dan membantunya, baik lewat sebuah doa atau yang pelayanan istri lainnya termasuk kesabarannya menghadapi ke egoan seorang suami


Doa seorang istri adalah doa yang mustajabah (segera terkabul). Maka, bukan tidak mungkin saat suami mencari rezeki dengan keikhlasan dan keridhoan dari istri, akan terbuka pintu rezeki untuknya.


Bukan tidak mungkin saat dalam mencari nafkah terdapat suatu masalah dalam pekerjaan. Namun, masalah tersebut akan terasa lebih ringan bahkan lebih cepat selesai berkat doa yang selalu dipanjatkan seorang istri.


Pembuka Pintu Kesuksesan Baik di Dunia Maupun di Akhirat adalah saling berkasih sayang dengan istri (mawadddah warahmah)

jauhilah pertikaian bermusyawarahlah dgn istri dengan penuh kelembutan dan hargailah pendapatnya sekalipun terkadang tidak sesuai dgn kehendak suami 


Alloh menjadikan hidup berpasangan adalah untuk saling berkasih sayang dan itu merupakan tanda-tanda kekuasaan Alloh 


Firman Allah SWT


“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia telah menciptakan untukmu seorang istri-istri dari jenismu sendiri, agar kamu cendrung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikannya rasa diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnyaapa yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi mereka kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Ruum : 21).


Dari penggalan ayat ini, laki-laki yang sholeh tentu telah disediakan wanita yang shalehah untuknya.


Istri yang shalehah akan mengantarkan kebaikan dalam kehidupan suaminya, baik untuk kesuksesan dunia maupun di akhirat kelak.


Sobat, istri shalihah adalah penyempurna bagi suami, mereka tercipta untuk saling melengkapi dan saling menyempurnakan hargai dan hormati istri dgn penuh kasih sayang agar rumah tangga di penuhi cahaya keberkahan


Sobat, kesuksesan Rasulullah SAW dalam berwirausaha tidak hanya sekadar dalam bentuk materi, namun juga kerberkahan rezeki yang diperoleh dan mengikat erat tali kasih sayang yang tulus pada istri dan persaudaraan yang kuat antar Muslim Walloa'lam.

Thursday, 1 October 2020

UMMI SANG MUJAHID !

 Teruntuk Ibu para Mujahid, lalu Istriku, serta seluruh Wanita Kaum Muslimin hafizhakumullah, bacalah dengan sepenuh hati ! 

-----------------------------------------------------------


UMMI SANG MUJAHID !


(KISAH MENAKJUBKAN DI MASA TABI'IN)


--Al-Akh Yahya Al-Windany (Penuntut Ilmu di Darul Hadits Fuyus,Yaman)--

--------------------------------------------------------------


Hari itu, di salah satu sudut Masjid Nabawi berkumpullah Abu Qudamah dan para sahabatnya.


Di hati para sahabatnya, Abu Qudamah adalah orang yang sangat dikagumi. Itu karena Abu Qudamah adalah seorang mujahid. Berjihad dari satu front ke medan-medan jihad lainnya. Seolah hidup beliau, beliau persembahkan untuk berjihad.


Debu yang beterbangan, kilatan pedang, hempasan anak panah, derap kuda adalah hal yang sudah biasa bagi beliau. Pengalaman, tragedi, kisah dan momen pun telah banyak beliau saksikan di setiap gelanggang perjuangan jihad.


"Abu Qudamah, ceritakanlah pada kami kisah paling mengagumkan di hari-hari jihadmu," tiba-tiba salah seorang sahabatnya meminta.


"Ya," jawab Abu Qudamah.


Beberapa tahun lalu. Aku singgah di kota Recca. Aku ingin membeli onta untuk membawa persenjataanku.


Saat aku sedang bersantai di penginapan, keheningan pecah oleh suara ketukan.


Ku buka ternyata seorang perempuan.


"Engkaukah Abu Qudamah?" tanyanya.


"Engkaukah yang menghasung umat manusia untuk berjihad?" pertanyaannya yang kedua.


"Sungguh, Allah telah menganugerahiku rambut yang tak dimiliki wanita lain. Kini aku telah memotongnya. Aku kepang agar bisa menjadi tali kekang kuda. Aku pun telah menutupinya dengan debu agar tak terlihat.


Aku berharap sekali agar engkau membawanya. Engkau gunakan saat menggempur musuh, saat jiwa kepahlawananmu merabung. Engkau gunakan bersamaan saat kau menghunus pedang, saat kau melepaskan anak panah dan saat tombak kau genggam erat.


Kalau pun engkau tak membutuhkan, ku mohon berikanlah pada mujahid yang lain. Aku berharap agar sebagian diriku ikut di medan perang, menyatu dengan debu-debu fi sabilillah.


Aku adalah seorang janda. Suamiku dan karib kerabatku, semuanya telah mati syahid fi sabilillah. Kalau pun syariat mengizinkan aku berperang, aku akan memenuhi seruannya," ungkapnya sembari menyerahkan kepangan rambutnya.


Aku hanya diam membisu. Mulutku kelu walau tuk mengucapkan "iya".


"Abu Qudamah, walaupun suamiku terbunuh, namun ia telah mendidik seorang pemuda hebat. Tak ada yang lebih hebat darinya.


Ia telah menghapal Al-Qur'an. Ia mahir berkuda dan memanah. Ia senantiasa sholat malam dan berpuasa di siang hari.


Kini ia berumur 15 tahun. Ialah generasi penerus suamiku. Mungkin esok ia akan bergabung dengan pasukanmu. Tolong terimalah dia. Aku persembahkan dia untuk Allah. Ku mohon jangan halangi aku dari pahala," kata-kata sendu terus mengalir dari bibirnya.


Adapun aku masih diam membisu. Memahami kalimat per kalimat darinya. Lalu tanpa sadar perhatianku tertuju pada kepangan rambutnya.


"Letakkanlah dalam barang bawaanmu agar kalbuku tenang," pintanya tahu aku memperhatikan kepangan rambutnya.


Aku pun segera meletakkannya bersama barang bawaanku. Seolah aku tersihir dengan kata-kata dan himmah (tekad) nya yang begitu mengharukan.


Keesokan harinya, aku bersama pasukan beranjak meninggalkan Recca.


Tatkala kami tiba di benteng Maslamah bin Abdul Malik, tiba-tiba dari belakang ada seorang penunggang kuda yang memanggil-manggil.


"Abu Qudamah!" serunya.


"Abu Qudamah, tunggu sebentar, semoga Allah merahmatimu."


Kaki pun terhenti. Lalu aku berpesan kepada pasukan, "tetaplah di tempat hingga aku mengetahui orang ini."


Dia mendekat dan memelukku.


"Alhamdulillah, Allah memberiku kesempatan menjadi pasukanmu. Sungguh Dia tidak ingin aku gagal," ucapnya


"Kawan, singkaplah kain penutup kepalamu dahulu," pintaku.


Ia pun menyingkapnya. Ternyata wajahnya bak bulan purnama. Terpancar darinya cahaya ketaatan.


"Kawan, apakah engkau memiliki Abi?" tanyaku.


"Justru aku keluar bersamamu hendak menuntut balas kematian Abi. Dia telah mati syahid. Semoga saja Allah menganugerahiku syahid seperti Abi," jawabnya.


"Lalu, bagaimana dengan Ummi? Mintalah restu darinya terlebih dahulu. Jika merestui, ayo. Jika tidak, layanilah beliau. Sungguh baktimu lebih utama dibandingkan jihad. Memang, jannah di bawah bayangan pedang, namun juga di bawah telapak kaki ibu."


"Duhai Abu Qudamah. Tidakkah engkau mengenaliku."


"Tidak."


"Aku putra pemilik titipan itu. Betapa cepatnya engkau melupakan titipan Ummi, pemilik kepangan rambut itu"


Aku, insya Allah, adalah seorang syahid putra seorang syahid. Aku memohon kepadamu dengan nama Allah, jangan kau halangi aku ikut berjihad fi sabilillah bersamamu.


Aku telah menyelesaikan Al-Qur'an. Aku juga telah mempelajari Sunnah Rasul. Aku pun lihai menunggang kuda dan memanah.


Tak ada seorang pun lebih berani dariku. Maka, janganlah kau remehkan aku hanya karena aku masih belia.


Ummi telah bersumpah agar aku tidak kembali. Beliau berpesan; Nak, jika kau telah melihat musuh, jangan pernah kau lari. Persembahkanlah ragamu untuk Allah. Carilah kedudukan di sisi Allah. Jadilah tetangga Abimu dan paman-pamanmu yang sholeh di jannah. Jika nantinya kau menjadi syahid, jangan kau lupakan Ummi. Berilah Ummi syafa'at. Aku pernah mendengar faedah bahwa seorang syahid akan memberi syafaat untuk 70 orang keluarganya dan juga 70 orang tetangganya.


Ummi pun memelukku dengan erat dan mendongakkan kepalanya ke langit;


Rabbku.. Maulaku.. Inilah putraku, penyejuk jiwaku, buah hatiku.. aku persembahkan ia untukmu. Dekatkanlah ia dengan ayahnya," terang sang pemuda


Kata-katanya terus mendobrak tanggul air mataku. Dan akhirnya aku benar-benar tak kuasa menahannya. Aku tersedu-sedu. Aku tak tega melihat wajahnya yang masih muda, namun begitu tinggi tekadnya. Aku pun tak bisa membayangkan kalbu sang ibu. Betapa sabarnya ia.


Melihatku menangis, sang pemuda bertanya, "Paman, apa gerangan tangisanmu ini? Jika sebabnya adalah usiaku, bukankah ada orang yang lebih muda dariku, namun Allah tetap mengadzabnya jika bermaksiat !?"


"Bukan," aku segera menyanggah.


"Bukan lantaran usiamu. Namun aku menangis karena kalbu ibumu. Bagaimana jadinya nanti jika engkau gugur?"


Akhirnya aku menerimanya sebagai bagian dari pasukan. Siang malam si pemuda tak pernah jemu berdzikir kepada Allah Ta'ala. Saat pasukan bergerak, ia yang paling lincah mengendalikan kuda. Saat pasukan berhenti istirahat, ia yang paling aktif melayani pasukan. Semakin kita melangkah, tekadnya juga semakin membuncah, semangatnya semakin menjulang, kalbunya semakin lapang dan tanda-tanda kebahagiaan semakin terpancar darinya.


Kami terus berjalan menyusuri hamparan bumi nan luas. Hingga kami tiba di medan laga bersamaan dengan bersiap-siapnya matahari untuk terbenam.


Sesampainya, sang pemuda memaksakan diri menyiapkan hidangan berbuka untuk pasukan. Memang, hari itu kami berpuasa. Dan dikarenakan hal inilah juga khidmatnya kepada pasukan selama perjalanan, dia tertidur pulas. Pulas sekali hingga kami iba membangunkan. Akhirnya, kami sendiri yang menyiapkannya dan membiarkan si pemuda tidur.


Saat tidur, tiba-tiba bibirnya mengembang menghiasi wajahnya. "Lihatlah, ia tersenyum!" kataku pada teman keheranan.


Setelah bangun, aku bertanya padanya, "kawan, saat tertidur kau tersenyum. Apa gerangan mimpimu?"


"Aku mimpi indah sekali. Membuatku bahagia," jawabnya.


"Ceritakanlah padaku!" pintaku penasaran.


"Aku seperti di sebuah taman hijau nan permai. Indah sekali. Pemandangannya menarik kalbuku untuk berjalan-jalan.


Saat asyik berjalan, tiba-tiba aku berdiri di depan istana perak, balkonnya dari batu permata dan mutiara serta pintu-pintunya dari emas.


Sayang, tirai-tirainya terjuntai, menghalangiku dari bagian dalam istana. Namun tak lama, keluarlah gadis-gadis menyingkap tirai-tirainya. Sungguh wajah mereka bagaikan rembulan. Kutatap wajah-wajah cantik itu dengan penuh kekaguman, amboi cantiknya.


"Marhaban," kata salah seorang dari mereka tahu ku memandanginya.


Aku pun tak tahan hendak menjulurkan tangan menyentuhnya. Belum sampai tangan ini menyentuh, dia berkata, "Belum. Ini belum waktunya. Janganlah terburu-buru."


Telingaku juga menangkap sebuah suara salah seorang mereka, "Ini suami Al Mardhiyah."


Mereka berkata kepadaku, "kemarilah, yarhamukalloh."


Baru saja kakiku hendak melangkah, ternyata mereka telah berdiri di depanku.


Mereka membawaku ke atas istana. Di sebuah kamar, seluruhnya dari emas merah yang berkilauan indahnya. Dalam kamar itu ada dipan yang bertahtakan permata hijau dan kaki-kakinya terbuat dari perak putih.


Dan diatasnya. . .


seorang gadis belia dengan wajah bersinar lebih indah dari sekedar rembulan!! Kalaulah Allah tidak memantapkan kalbu dan penglihatanku, niscaya butalah mataku dan hilanglah akalku karena tak kuasa menatap kecantikannya!!


"Marhaban, ahlan wa sahlan, duhai wali Allah. Sungguh engkau adalah milikku dan aku adalah milikmu" katanya menyambutku, membuatku tak terasa hendak memeluknya.


"Sebentar. Janganlah terburu-buru. Belum waktunya.


Aku berjanji padamu, kita bertemu besok selepas sholat dhuhur. Bergembiralah," sang pemuda mengakhiri kisahnya.


Lalu, aku berusaha membangkitkan himmahnya, "Kawan, mimpimu begitu indah. Engkau akan melihat kebaikan nantinya,"


Kami pun bermalam dengan perasaan takjub dan kagum akan mimpi sang pemuda.


Esok hari, kami bersiap menghadapi kaum kafir. Barisan diluruskan, formasi dan strategi dimatangkan, senjata tergenggam kuat dan tali kekang kuda dipegang erat.


Semangat pun semakin berkobar saat mendengar hasungan, "wahai segenap para tentara Allah, tunggangilah kuda-kuda kalian. Bergembiralah dengan jannah. Majulah kalian, baik terasa ringan oleh kalian ataupun terasa berat."


Tak lama, skuadron pasukan kuffar tiba di hadapan kami. Banyak sekali, bagaikan belalang yang menyebar kemana-mana.


Perang campuh pun terjadi. Kesunyian pagi hari sontak terpecah oleh teriakan skuadron kuffar dan gema takbir kaum muslimin. Suara senjata yang saling beradu, berbaur dengan riuh rendah suara para prajurit yang sedang bertaruh nyawa.


Tiba-tiba aku mengkhawatirkan pemuda itu. Iya, dimana pemuda itu...


Dimana pemuda itu ? Ku berusaha mencari di tengah medan laga. Ternyata dia di barisan depan pasukan muslimin. Dia merangsek maju, menyibak skuadron kuffar dan memporak porandakan barisan mereka.


Dia bertempur dengan hebatnya. Dia mampu melumpuhkan begitu banyak pasukan kuffar.


Namun begitu, tetap saja hati ini tak tega melihatnya. Aku segera menyusulnya di depan.


"Kawan, kau masih terlalu muda. Kau tak tahu betapa liciknya pertempuran. Kembalilah ke belakang," teriakku mencoba menyaingi suara riuh pertempuran, sambil menarik tali kekang kudanya.


"Paman, tidakkah kau membaca ayat {{ wahai segenap kaum mukmin, jika kalian telah bercampuh dengan kaum kuffar, maka janganlah kalian mundur ke belakang }} [Al Anfal:15]. Sudikah engkau aku masuk neraka ?" serunya menimpali.


Saat kucoba memahamkannya, serbuan kavelari kuffar memisahkan kami. Aku berusaha mengejarnya, namun sia-sia. Peperangan semakin bergejolak.


Dalam kancah pertempuran, terdengarlah derap kaki kuda diiringi gemerincing pedang dan hujan panah.


Lalu mulailah kepala berjatuhan satu persatu. Bau anyir darah tercium dimana-mana. Tangan dan kaki bergelimpangan. Dan tubuh tak bernyawa tergeletak bersimbah darah.


Demi Allah, perang itu telah menyibukkan tiap orang akan dirinya sendiri dan melalaikan orang lain. Sabetan dan kilatan pedang di atas kepala yang tak henti-hentinya, menjadikan suhu memuncak. Kedua pasukan bertempur habis-habisan.


Saat perang usai, aku segera mencari si pemuda. Terus mencari di medan laga. Aku khawatir dia termasuk yang terbunuh. Aku berkeliling mengendarai kuda di sekitar kumpulan korban. Mayat demi mayat, sungguh wajah mereka tak dapat dikenali, saking banyaknya darah bersimbah dan debu menutupi.


Dimana sang pemuda ?


Aku terus melanjutkan pencarian. Dan tiba-tiba aku mendengar suara lirih, ”Kaum muslimin, panggilkan pamanku Abu Qudamah kemari!”


Itu suaranya, teriakku dalam kalbu. Kucari sumber suara, ternyata benar, si pemuda. Berada di tengah-tengah kuda bergelimpangan. Wajahnya bersimbah darah dan tertutup debu. Hampir aku tak mengenalnya.


Aku segera mendatanginya. "Aku di sini! Aku di sini! Aku Abu Qudamah!" isakku tak kuasa menahan tangis. Aku sisingkan sebagian kainku dan mengusap darah yang menutupi wajah polosnya.


"Paman, demi Rabb ka'bah, aku telah meraih mimpiku. Akulah putra ibu pemilik rambut kepang itu. Aku telah berbakti padanya, ku kecup keningnya dan ku hapus debu dan darah yang terkadang mengalir di wajahnya," kenangnya. Sungguh aku benar-benar tak kuasa dengan kejadian ini.


"Kawan, janganlah kau lupakan pamanmu ini. Berilah dia syafa'at nanti di hari kiamat."


"Orang sepertimu tak kan pernah kulupakan."


"Jangan!" serunya lagi saat kucoba mengusap wajahnya. "Jangan kau usap wajahku dengan kainmu. Kainku lebih berhak untuk itu. Biarkanlah darah ini mengalir hingga aku menemui Rabb-ku, paman.


Paman, lihatlah, bidadari yang pernah kuceritakan padamu ada di dekatku. Dia menunggu ruhku keluar. Dengarkanlah kata-katanya; sayang, bersegeralah. Aku rindu.


Paman, demi Allah, tolong bawalah bajuku yang berlumuran darah ini untuk Ummi. Serahkanlah padanya, agar beliau tahu aku tak pernah menyia-nyiakan petuahnya. Juga agar beliau tahu aku bukanlah pengecut melawan kaum kafir yang busuk itu. Sampaikanlah salam dariku dan katakan hadiahmu telah diterima Allah.


Paman, saat berkunjung ke rumah nanti, kau akan bertemu adik perempuanku. Usianya sekitar sepuluh tahun. Jika aku datang, ia sangat gembira menyambutku. Dan jika aku pergi, ia paling tidak mau kutinggalkan.


Saat ku meninggalkannya kali ini, ia mengharapkanku cepat kembali. "Kak, cepat pulang, ya." Itulah kata-katanya yang masih terngiang di telingaku.


Jika engkau bertemu dengannya, sampaikan salamku padanya dan katakan; Allah-lah yang akan menggantikan kakak sampai hari kiamat, " kata-katanya terus membuat air mataku meleleh. Menetes dan terus menetes membuat aliran sungai di pipi.


"Asyhadu alla ilaaha illalloh, wahdahu laa syarikalah, sungguh benar janji-Nya. Wa asyhadu anna muhammadarrosululloh. Inilah apa yang djanjikan Allah dan rasul-Nya dan nyatalah apa yang dijanjikan Allah dan rasul-Nya," itulah kata-kata terakhirnya sebelum ruh berlepas dari jasadnya.


Lalu aku mengkafaninya dan menguburkannya.


Aku harus segera ke Recca, tekadku.


Aku segera pergi ke Recca. Tak lain dan tak bukan tujuanku hanyalah ibu si pemuda.


Celakanya aku, aku belum mengetahui nama si pemuda dan di mana rumahnya. Aku berkelililing ke seluruh kota Recca. Setiap sudut, gang dan jalan ku telusuri. Dan akhirnya aku mendapatkan seorang gadis mungil. Wajahnya bersinar mirip si pemuda.


Ia melihat-lihat setiap orang yang berlalu di depannya. Tiap kali melihat orang baru datang dari bepergian, ia bertanya, “Paman, anda datang darimana?” “Aku datang dari jihad,” kata lelaki itu. “Kalau begitu kakakku ada bersamamu?” tanyanya “Aku tak kenal, siapa kakakmu.” kata lelaki itu sambil berlalu.


Lalu lewatlah orang kedua dan tanyanya, “Paman, anda datang dari mana?” “Aku datang dari jihad,” jawabnya. “Kakakku ada bersamamu?”, tanya gadis itu. “Aku tak kenal, siapa kakakmu.” jawabnya sambil berlalu.


Gadis itu pun tak bisa menahan rindu kepada sang kakak. Sambil terisak-isak, dia berkata,"mengapa mereka semua kembali dan kakakku tak kunjung kembali?”


Aku iba kepadanya. Ku coba menghampiri tanpa membawa ekspresi kesedihan.


"Adik kecil, bilang sama Ummi, Abu Qudamah datang."


Mendengar suaraku, sang ibu keluar.


"Assalamu'alaiki," salamku.


"Wa'alaikum salam," jawabnya.


"Engkau ingin memberiku kabar gembira atau berbela sungkawa?" lanjutnya.


"Maksud, ibu ?"


"Jika putraku datang dengan selamat, berarti engkau berbela sungkawa. Jika dia mati syahid, berarti engkau kemari membawa kabar gembira," terangnya.


"Bergembiralah. Allah telah menerima hadiahmu."


Ia pun menangis terharu.


"Benarkah?"


"Iya."


Benar-benar ia tak kuasa menahan tangis.


"Alhamdulillah. Segala puji milik Allah yang telah menjadikannya tabunganku di hari kiamat," pujinya kepada Zat Yang Maha Kuasa.


Para sahabat Abu Qudamah mendengarkan kisahnya dengan penuh kekaguman.


"Lalu gadis kecil itu bagaimana?" tanya salah seorang dari mereka.


"Dia mendekat kepadaku. Dan kukatakan padanya, "Kakakmu menitipkan salam padamu dan berkata; Dik, Allah-lah yang menggantikanku sampai hari kiamat nanti"


Tiba-tiba dia menangis sekencang-kencangnya. Wajahnya pucat. Terus menangis hingga tak sadarkan diri. Dan setelah itu nyawanya tiada.


Sang ibu mendekapnya dan menahan sabar atas semua musibah yang menimpanya.


Aku benar-benar terharu melihat kejadian ini. Aku serahkan padanya sekantong uang, berharap bisa mengurangi bebannya.


Sang ibu pun melepas kepergianku. Aku meninggalkan mereka dengan kalbu yang penuh kekaguman, ketabahan sang ibu, sifat ksatria sang pemuda dan cinta gadis kecil itu kepada kakaknya...(SELESAI)


----------------------------------------------------------------


Ya Rohman Ya Rohiim


Kabulkanlah seuntai do'a kami. Memang terasa berat meniti jalan jannah-Mu. Syahwat yang selalu menyambar, Syubhat yang terus menghantam, setan yang tak pernah menyerah dan nafsu jahat yang senantiasa memberontak. Sedangkan kalbu ini lemah, ya Rabb.


Kalaulah bukan karena-Mu, tidaklah kami ini berislam. Tidak pula mengerjakan sholat, tidak pula bersedekah.


Teguhkanlah kaki kami di atas jalan-Mu ini !


-------------------------------------------------------


Diterjemahkan dengan beberapa editing tanpa merubah tujuan dan makna dari Kitab 'Uluwwul Himmah indan Nisaa', 212-217.

Lihat juga:

1. Masyari'ul Asywaqi ila Mashori'il Usysyaqi: 1/285-290.

2. Sifatush Shofwah: 2/369-370

3. Tarikh Islam: 1/214-215

-------------------------------------------------------


Semoga Bermanfaat ! Baarakallahufiykum.


[Andri Maadsa Abu Umar hafizhahullaah]

Sunday, 20 September 2020

Corona antara ada dan tiada

 Baca baik2....

Kami yang awam ini bukan tak percaya adanya virus corona, jangankan virus yang masih se-alam,  sama-sama alam fisika, malaikat dengan jin yang beda alam pun kami percaya, padahal alam mereka metafisika.


Sehalus-halusnya virus masih ada mikroskop untuk meneliti, tapi jin dan malaikat belum ada alat untuk deteksi selain kemenyan dengan jampi-jampi. 


Bukan pula kami curiga kepada paramedis yang mati-matian sampai dengan mati benaran berjibaku menyelamatkan pasien corona, karena kami sangat yakin tak ada KONTRAKTOR yang sukarela terima proyek membersihkan gigi buaya, kecuali buaya darat.


Kami hanya tak percaya dengan kebijakan pemimpin negeri ini dalam menghadapi pandemi.


Bayangkan...

Saat virus ini dimulai dari Cina, sampai hari ini "bangsatwan" dari negeri tersebut bebas keluar masuk, bahkan diberi fasilitas istimewa.


Ketika semua negara menutup pelabuhan dan bandara, pemimpin negeri ini malah sibuk promosi pariwisata.


Saat negara lain fokus menyelamatkan nyawa, pemerintah republik ini sibuk menyelamatkan devisa.


WHO telah umumkan antivirusnya belum ada, seharusnya antibodi menjadi tumpuan. Tapi pemerintah secara sistematis menggerus imunitas tubuh dengan pemberitaan korban corona terus menerus. 


Seharusnya ruang ibadah, ruang belajar, ruang kerja, dan ruang sosial menjadi tempat mengecas imun, tapi semua ditutup agar kita fokus menahan serangan virus tanpa tameng tanpa senjata.


Refocusing anggaran di mana-mana, pegawai yang seharusnya kerja, sekarang hanya melamun saja. Proyek yang menyerap tenaga kerja terhenti dan ekonomi pun merana.

Rakyat disubsidi dengan dana desa, warga menumpuk menanti jatahnya.


Kenapa tidak dibuka lahan tani, kebun dan ternak seluas-luasnya, agar masyarakat bisa beraktivitas dan melupakan corona.


Pastikan hasil usaha mereka diserap pasar, atau dibeli oleh pemerintah dengan anggaran corona walaupun untuk "dibuang" semua.


Sekurang-kurangnya, badan mereka sehat karena keringat mengucur, jiwa mereka kuat karena ada harapan yang menggiur.


Biarkan mereka tetap belajar agar masa depan mereka makmur, aktifkan ruang-ruang sosial agar mereka terhibur, dorong mereka beribadat, Kalaupun mati karena corona minimal selamat di dalam kubur.


Kawan-kawan paramedis, kuatlah... kami tidak melawan Anda, kami hanya melawan kebijakan yang salah kaprah, yang setiap hari terus berubah, bukan hanya kebijakan, bahkan termasuk istilah.


Kami pun bingung dengan peraturan-peraturan yang cenderung menyingkirkan akal sehat.

Dimana disatu sisi, diwajibkan pemakaiannya dari jenis apapun tidak dipermasalahkan, yang penting pakai, disangsi jika tidak digunakan, tapi disisi lain, ada klasifikasikasi yang boleh dan jangan dipakai.


Belum lagi peraturan dimana sedang sendiri pun, diwajibkan tetap dipakai. Sementara dari teori yang ada, dia menyebar lewat droplet. Tidak terbang di udara sepertinya halnya virus penyakit lain.


Rakyat yang menghadiri upacara pemakaman dibubarkan dengan alasan berkerumun, padahal sudah memakai protokol, sementara disidang razia masker mereka berkerumun kok tidak dibubarkan juga?

Dan tempo hari, ketika ada elemen rakyat yang berdemo dan dangdutan di pilkada pun tidak dibubarkan.

Jadi mau dibawa kemana arahnya peraturan ini ???

Peraturan suka-suka kah?


Dan..

Mohon dijelaskan, pasien positif corona yang sudah sembuh, sembuh karena obat ataukah sembuh dengan sendirinya...?


Kalau sembuh dengan obat, apa nama obatnya...?


Kalau sembuh dengan sendirinya, untuk apa buang-buang waktu, tenaga, biaya bahkan nyawa...?


Kalau yang meninggal disebabkan karena penyakit penyerta, kenapa sibuk mengurus orang yang tanpa gejala...?


Kalau yang meninggal karena salah diagnosa, bagaimana merevisi datanya...?

Kenapa tidak disampaikan juga...?


Wahai akal sehat pulanglah kembali ke Indonesia, bila tidak pergilah selamanya...Karena saudara kami yang mengalami gangguan jiwa, sampai hari ini baik-baik saja. 


Copas.

Sumber

#Ustad H Masrul Aidi Lc

#Ditambah sedikit untuk melengkapi

Monday, 7 September 2020

Ahmad si Murid nakal

 Ahmad Si Murid Nakal Itu Ternyata ...


(Sebuah cerpen)


Aku guru baru di SD ini. Sebuah SD di pelosok desa yang sangat jauh. Meski jauh dari kota asalku, aku sangat antusias menjalani peran baru sebagai seorang pendidik. Darah guru memang mengalir deras dalam keluarga besarku. 


Ayah-Ibuku guru. Paman dan Bibi dari pihak Ayah maupun Ibu juga banyak yang menjadi guru. Beberapa orang sepupuku juga telah lebih dulu memilih profesi sebagai guru.


Beberapa minggu mengajar di sini, aku sudah langsung menghadapi sebuah masalah yang menurutku pelik. 


Ada seorang anak yang terkenal sangat badung. Namanya Ahmad, seorang murid kelas 6. Anehnya, si Ahmad ini berubah jadi nakal baru-baru ini saja. Sebelumnya dia sama sekali bukan anak yang bermasalah.


Menurut cerita para guru, sejak enam bulan terakhir si Ahmad sering sekali mengusili teman-temannya. Bahkan tak jarang ada yang sampai menangis karena kejahilan bocah itu. Dia juga suka membuat gaduh di kelas sehingga mengganggu proses belajar mengajar.


Karena kebadungan dan perilaku buruknya itu, beberapa orang tua murid lain pernah ada yang protes. Mereka merasa kurang nyaman anak-anak mereka satu kelas dengan murid yang super jahil bahkan sudah masuk kategori nakal. 


Pernah pula ada orang tua murid yang terang-terangan meminta kepala sekolah agar mengeluarkan Ahmad.


Kepala sekolah dan para guru pun mengalami kondisi dilematis. Mereka akui, belakangan Ahmad memang banyak bikin masalah. Namun, dia juga adalah murid paling cerdas di sekolah itu. Sejak kelas satu, dia selalu menjadi pemuncak kelas. Nilai-nilai raport-nya selalu mendekati angka sempurna. 


Jika ada lomba-lomba antar sekolah semacam cerdas cermat atau olimpiade sains, selalu Ahmad yang menjadi andalan. Dan, prestasinya pun tak pernah mengecewakan. 


Oleh karena itu, pihak sekolah tidak mau memberhentikan Ahmad dan lebih memilih pendekatan persuasif kepada para orang tua yang suka protes itu agar mau memaklumi kebadungan Ahmad. Toh, kenakalannya juga masih dalam batas wajar nakalnya anak-anak.


Akan tetapi, ternyata tak mudah. Tetap saja pihak sekolah terus menerus mendapat tekanan dari sebagian orang tua teman-teman Ahmad yang menginginkan bocah itu dikeluarkan dari sekolah. Ahmad bisa berpengaruh buruk pada anak-anak lain. Begitu argumen mereka.


Suatu ketika, aku mengalami sendiri kebadungan Ahmad.


Aku mengajar menjelang jam bubaran sekolah. Ketika aku baru saja sampai di kelas, Ahmad sudah terlihat bertingkah. Dia memukul-mukul mejanya dengan keras sehingga suasana kelas menjadi gaduh. 


Tak berhenti disitu, ketika aku sedang menerangkan pelajaran, dia berteriak-teriak tak karuan. 


Aku dengar, biasanya jika Ahmad sudah bertingkah begitu, guru-guru lain pasti mengusirnya ke luar kelas atau menyuruhnya pulang duluan. Supaya kelas tidak gaduh. Dan, biasanya Ahmad dengan senang hati segera berlari meninggalkan kelas.


Aku tidak melakukan itu. Jangankan mengusir, aku bahkan membiarkan Ahmad terus bertingkah. Aku memilih berhenti menerangkan pelajaran, kemudian menulis beberapa kalimat di papan tulis dan menyuruh anak-anak menyalinnya ke buku masing-masing. 


Aku perhatikan Ahmad, dia tampak gusar. Lalu dengan gestur gelisah celingak-celinguk ke luar jendela. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Aku tetap berpura-pura tidak memperdulikan dia. Namun, sudut mataku tetap mengawasi gerak-geriknya.


Tiba-tiba dia meraih tasnya lalu dengan kalap memukul-mukulkannya ke tubuh Amir, teman sebangkunya. 


Amir yang sedang menulis terkejut. Dia coba menangkis gebukan bertubi-tubi Ahmad dengan kedua tangannya.


Aku tak kalah terkejut, lalu bergegas mendekati mereka. 


"Ahmad! Ahmad! Hentikan!" bentakku sambil mencekal bahu anak itu dan menariknya mundur dari Amir yang tampak tak senang tiba-tiba dipukuli.


"Ahmad, kamu duduk di meja Bapak, cepat! Dan kamu, Amir, ayo duduk lagi. Selesaikan tugasmu!" Perintahku pada kedua bocah itu.


Amir segera mematuhi perintahku. Namun, tidak dengan Ahmad. Sempat terlihat wajahnya tenang setelah aku tarik tadi. Tak terlihat ada kesan badung dari sorot matanya. Namun, wajah itu tiba-tiba kembali gelisah ketika aku suruh duduk di tempatku.


Lalu, secara tiba-tiba Ahmad kembali mengambil tasnya, kemudian berlari sekencang-kencangnya meninggalkan aku dan seisi kelas.


"Ahmad! Ahmad! Mau kemana kamu?" Teriakku berusaha mencegahnya.


Namun, percuma, anak itu tak menggubris teriakanku. Dia terus berlari secepat yang dia bisa hingga ke luar pekarangan sekolah.


Aku penasaran. Buru-buru ku perintahkan murid-murid untuk bubar lalu aku pun berlari menyusul Ahmad.


*****


Aku berhasil menyusul. Dari jarak sekitar 30 meter aku bisa melihat Ahmad berjalan sangat tergesa-gesa. 


Tadinya aku ingin segera menjajarinya dan bertanya langsung tentang tingkah nakalnya pada Amir tadi. Namun, tiba-tiba naluri keingintahuanku mencegah. Akhirnya kuputuskan untuk membuntutinya terus sampai ke rumah.


Ternyata memang jauh rumahnya. Butuh setengah jam berjalan cepat diselingi berlari untuk sampai di rumahnya yang ternyata hanya sebuah rumah kayu yang sangat sederhana. Bahkan bisa dikatakan reot.


Aku berdiri di balik semak tak jauh dari rumah itu dan memperhatikan dari sana.


Di depan pintu, Ahmad berteriak keras


"Yusuf! Ayo buruan!"


Dari dalam rumah keluar seorang bocah yang hanya memakai celana pendek lusuh sambil menenteng beberapa buku. Tubuhnya sedikit lebih kecil daripada Ahmad. 


Ahmad buru-buru membuka pakaian sekolah dan sepatunya lalu menyerahkannya pada bocah yang tadi dia panggil Yusuf itu.


Yusuf bergegas memakai pakaian sekolah dan sepatu yang disodorkan Ahmad. Lalu, dengan sigap pula dia keluarkan buku-buku dari dalam tas, kemudian memasukkan buku-buku yang tadi dia tenteng. 


"Aku berangkat ya, Bang. Gantian jaga ibu, ya!" ujar Yusuf. Lalu bocah itu pun berlari meninggalkan Ahmad.


"Masha Allah ..." batinku. 


Rupanya ini lah alasan Ahmad selalu berbuat nakal tiap menjelang jam bubaran sekolah. Rupanya supaya dia diusir dari kelas dan bisa segera pulang agar adiknya bisa gantian memakai seragam, sepatu, dan tas sekolahnya. 


Terjawab juga kenapa dia tadi kabur dari kelas. Rupanya karena tadi aku tidak mengusirnya ketika dia bikin gaduh, dan bahkan telah memukuli Amir, dia terpaksa kabur. Rupanya sang adik memang menunggu kepulangannya segera, supaya tidak terlambat sekolah.


Hanya saja, kenapa harus dengan cara berbuat nakal? Masih jadi tanda tanya besar di kepalaku.


Setelah Yusuf pergi, Ahmad segera masuk rumah. Aku yang makin penasaran pada kehidupan anak yang sebenarnya sangat cerdas itu, mendekat ke rumah. 


Dengan senyap aku masuki pekarangan dan terus mendekat ke pintu rumah. Aku berdiri diam di depan pintu yang terkuak setengah itu.


Dari dalam aku dengar obrolan Ahmad dengan seorang perempuan yang aku yakin adalah ibunya.


"Kau diusir gurumu lagi, hari ini? 


Tak terdengar ada balasan.


Aku coba mengintip ke dalam. Rupanya Ahmad sedang menyuapi seorang perempuan yang terbaring di sebuah bale-bale bambu dengan posisi kepala agak ditinggikan. Rupanya perempuan itu lagi sakit.


Beberapa menit kemudian.


"Bu, aku berangkat dulu, ya... Assalammualaikum." Terdengar suara Ahmad berpamitan. 


Benar ternyata. Perempuan itu ibunya.


Aku buru-buru menyingkir ke samping rumah.


Ahmad kembali berjalan tergesa-gesa meninggalkan rumah. Tangannya menenteng sebuah rantang.


Aku ikuti terus langkah Ahmad menyusuri jalan-jalan setapak hingga akhirnya tiba di areal persawahan. 


"Ayah! Ini makan siang Ayah. Aku tinggal di sini, ya! Sekalian aku pamit mau ke pasar ya, Yah," ujar Ahmad setengah berteriak seraya menaruh rantang di pematang.


Ayah Ahmad yang sedang mencangkul menghentikan pekerjaannya.


"Oya, Nak, taruh aja di sana. Kau tetap mau ke pasar?" 


"Iya, Yah. Mumpung masih rame." jawab Ahmad sembari putar badan dan langsung kembali berlari meninggalkan area persawahan.


"Ya sudah ... hati-hati! Pulang menjelang Ashar, ya!" teriak ayah Ahmad.


"Baik, Yah," jawab Ahmad juga dengan berteriak sambil terus berlari kecil.


Aku kembali membuntuti Ahmad.


Sebagaimana obrolannya dengan sang ayah tadi, rupanya Ahmad memang menuju pasar.


Di pasar dia mengambil satu pack plastik kresek di sebuah kios. 


Lalu dia berkeliling pasar menawarkan kresek itu kepada ibu-ibu yang sedang berbelanja. Beberapa Ibu tampak membeli kresek yang ditawarkan Ahmad. 


Beberapa Ibu juga ada yang meminta Ahmad membantu menenteng belanjaan mereka sampai ke pangkalan ojek atau angkutan pedesaan. Ahmad terlihat sangat gembira tiap menerima upah seribu dua ribu perak sebagai upah atas jasanya itu.


Sampai di situ, mataku terasa panas. Hatiku pilu setelah mengetahui siapa Ahmad sebenarnya. Ternyata dia adalah seorang pejuang kehidupan yang amat tangguh. Aku pun melangkah meninggalkan pasar itu dengan perasaan campur aduk tak menentu.


*****


Keesokan harinya.


Ahmad tak masuk sekolah. Aku gelisah. Karena tak ada kabar sama sekali tentang dia. Padahal, hari ini aku ingin ngobrol banyak dengan bocah itu sekalian ingin memberinya bantuan uang tunai semampuku.


Sepulang sekolah aku putuskan menemui Ahmad di rumahnya. Skalian ingin bicara dengan kedua orang tua anak yang mengagumkan itu.


*****


"Pak, Bu, perkenalkan saya guru di sekolahnya Ahmad," ujarku memperkenalkan diri setelah dipersilahkan masuk rumah.


Ayah dan Ibu Ahmad terlihat murung. Namun, memaksakan senyum setelah mengetahui aku adalah guru anak mereka.


"Maaf Pak Guru... apakah Ahmad ada berbuat salah pada Pak Guru?" tanya sang Ayah.


"Oh... nggak kok, Pak... saya cuma mau bertanya tentang Ahmad."


"Soal apa, Pak Guru?"


Lalu kuceritakanlah semua tentang Ahmad sebagaimana yang selama ini diceritakan para guru di sekolah padaku. Juga kuceritakan tentang pengalamanku kemaren membuntuti Ahmad.


Ayah Ahmad mendesah panjang setelah mendengar ceritaku.


"Begini Pak Guru. Pendidikan kami rendah. Kami juga miskin. Sebenanya kami tak mampu menyekolahkan anak-anak. Tapi kami lihat sepertinya Ahmad itu anak yang cerdas. Makanya kami ingin dia sekolah."


"Beberapa tahun yang lalu ibunya tiba-tiba lumpuh, entah kenapa. Saya tak bisa menjaga Ibunya karena harus mencari nafkah supaya kami bisa tetap makan tiap hari."


"Akhirnya, Yusuf terpaksa tidak kami sekolahkan supaya bisa menjaga ibunya selama saya bekerja dan Ahmad di sekolah."


"Nah, tujuh bulan yang lalu, Ahmad minta saya untuk menyekolahkan Yusuf. Katanya, sangat penting Yusuf bersekolah. Meskipun terlambat tiga tahun. Itu lebih baik daripada tidak bersekolah sama sekali, katanya."


"Saya bilang, saya tak mampu, walau sekedar pembeli seragam. Belum lagi soal Ibu mereka yang tidak ada yang menjaga jika Yusuf juga sekolah." 


"Tapi, Ahmad tetap ngotot adiknya harus disekolahkan." 


"Akhirnya, Yusuf saya sekolahkan di SD yang belajarnya siang sampai sore. Supaya bisa gantian saja seragam dan tasnya dengan Ahmad yang sekolahnya pagi. Sekalian pula mereka berdua bisa gantian mengurus ibu mereka. Yusuf bertugas dari pagi, sedangkan Ahmad bertugas sampai menyuapi Ibunya makan siang. Setelah makan siang ibunya nggak apa apa ditinggal."


Aku manggut-manggut mendengar penjelasan itu.


"Lantas, kenapa Ahmad jadi nakal enam bulan terakhir ini, Pak?" tanyaku.


Ayah Ahmad terdiam. Dahinya berkerut pertanda sedang berpikir keras.


"Sepertinya dia memang sengaja berbuat nakal supaya diusir, Pak."


"Kenapa begitu, Pak?" tanyaku heran.


"Iya, dia berjanji, tidak akan bolos-bolos gara-gara Yusuf harus bersekolah. Sebab, saya minta begitu. Kalau dia terpaksa bolos karena harus berbagi seragam dengan Yusuf, lebih baik Yusuf tidak usah sekolah."


"Jadi dia sengaja nakal supaya diusir dan gak harus bolos supaya bisa pulang lebih cepat. Dengan begitu, dia tidak bohong pada saya. Dia pulang cepat bukan karena bolos, tapi karena diusir guru." 


"Kami memang selalu mengajarkannya untuk tidak boleh bohong. Apapun alasannya."


"Kami pun tak tega bertanya kenapa dia sampai sering diusir guru. Sebab, kami berpikir, pasti gara-gara kami."


"Mungkin karena seragamnya yang kotor atau bau. Mungkin juga karena buku pelajarannya yang tidak lengkap, entahlah. Yang jelas kami tidak tega menanyakannya."


"Tapi kami sungguh tak menyangka dia sering diusir ternyata karena berbuat nakal."


Ayah Ahmad mulai kesulitan menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata. Dia senang putranya memang tidak pernah berbohong. Tapi sekaligus sedih karena harus menempuh cara seperti itu supaya adiknya tetap bisa bersekolah sekaligus dia tidak membohongi orang tuanya.


"Iya, Pak. Mungkin hanya sekali kemaren dia berbohong. Kemaren dia berbuat nakal. Tapi saya tidak mengusirnya. Akhirnya dia kabur pulang. Makanya saya buntuti. Dan sekarang saya jadi paham kondisi yang sebenarnya. Itu berarti kesalahan saya. Gara-gara saya lah Ahmad terpaksa berbohong," ujarku prihatin. 


Ayah dan Ibu Ahmad tampak sudah berkaca-kaca. Jika tak ada aku mungkin air mata mereka sudah berderai.


"Sudahlah, Pak, Bu ... sekarang, mana Ahmad?"


Ayah Ahmad tampak kaget.


"Pak Guru belum tahu?"


"Kenapa, Pak?"


"Ahmad meninggal. Kemaren di pasar ada yang meneriakinya copet. Dia pun dihakimi massa. Dalam perjalanan ke rumah sakit nyawanya tak tertolong. Pagi tadi dimakamkan," jelas ayah Ahmad dengan suara bergetar.


Mendadak tubuhku serasa lunglay. Jantung seolah berhenti berdetak. 


Harusnya kemaren aku temui Ahmad di pasar, memberinya uang, lalu mengantarnya pulang.

Thursday, 20 August 2020

UNIVERSITAS KEHIDUPAN

 Jika semua yang kita kehendaki terus kita

MILIKI, darimana kita belajar IKHLAS


Jika semua yang kita impikan segera

TERWUJUD, darimana kita belajar SABAR


Jika setiap do’a kita terus DIKABULKAN,

bagaimana kita dapat belajar BERUSAHA


Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu

kamu sedang belajar tentang KETULUSAN


Ketika usahamu dinilai tidak penting, maka

saat itu kamu sedang belajar KEIKHLASAN


Ketika hatimu terluka sangat dalam……,

maka saat itu kamu sedang belajar tentang MEMAAFKAN


Ketika kamu lelah dan kecewa, maka saat itu

kamu sedang belajar tentang KESUNGGUHAN


Ketika kamu merasa sepi dan sendiri, maka

saat itu kamu sedang belajar tentang KETANGGUHAN


Ketika kamu harus membayar biaya yang

sebenarnya tidak perlu kau tanggung, maka

saat itu kamu sedang belajar tentang

KEMURAH – HATIAN


Tetap semangat….

Tetap sabar….

Tetap tersenyum…..

Karena kamu sedang menimba ilmu di UNIVERSITAS KEHIDUPAN

TUHAN menaruhmu di “tempatmu” yang

sekarang, bukan karena “KEBETULAN”……


Orang yang HEBAT tidak dihasilkan melalui

kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan.


MEREKA di bentuk melalui KESUKARAN, TANTANGAN & AIR MATA……

Monday, 17 August 2020

🌹S E P É L É_🌹

 Seorang wanita muda tengah duduk santai di dalam bis yang melaju ke tengah kota. Di satu pemberhentian bis, seorang wanita tua yang cerewet dan berisik naik ke dalam bis dan duduk di samping wanita muda tadi. Tas-tas bawaannya yang berat dia tumpuk begitu saja di atas kursi, membuat wanita muda itu harus menggeser duduknya sambil setengah terjepit di antara tas-tas berat dan jendela bis.


Seorang pemuda yang duduk di bangku sebelah melihat kejadian itu dengan kesal, dan bertanya kepada wanita muda itu,_ _"Kenapa kamu tidak bicara saja, katakan pada wanita tua itu bahwa kamu jadi terganggu...


Wanita muda itu menjawab sambil tersenyum :


Aku rasa tidak perlu bersikap kasar dan beradu argumentasi untuk sesuatu yang sepele seperti ini, *perjalanan bersama kita ini terlalu singkat. Saya juga akan turun di perhentian bis berikutnya di depan nanti


Jawaban wanita muda tadi sangat pantas untuk ditulis dengan huruf emas :


"Kita tidak perlu berdebat untuk sesuatu yang sepele. Perjalanan kita bersama amat singkat."


Kalau kita tahu bahwa *perjalanan hidup ini begitu singkat,* maka kita tidak akan mau membuang tenaga dengan terus mengeluh, merasa tidak puas, bersikap mencari-cari kesalahan... karena semua hanya membuang waktu kita di perjalanan yang singkat ini.


🌹Apakah seseorang sudah melukai bahkan menghancurkan hatimu ?? Tetaplah tenang, perjalanan hidupmu terlalu singkat.


🌹Apakah seseorang *Sudah Menghianati kamu, mengejek kamu, menipu atau bahkan menghina kamu ??

Tetaplah tenang, maafkan mereka, karena

perjalanan hidup kita sangat singkat.


🌹Apapun masalah yang dibuat oleh orang lain kepada kita, mari kita selalu ingat bahwa_ perjalanan hidup kita sangat singkat.


Tidak seorang pun yang tahu kapan perjalanan hidupnya akan berakhir.


Tidak ada orang yang tahu kapan dia akan tiba di perhentian bis yang berikutnya.

Perjalanan hidup kita bersama sangat singkat.

Mari kita saling memberikan kebahagiaan kepada keluarga dan teman-teman kita.


Mari kita saling menaruh hormat, saling berbuat baik dan saling memaafkan satu dengan yang lain.


Mari kita isi hidup ini dengan rasa syukur, bahagia dan selalu berbuat baik untuk sesama.


Hidup adalah WAKTU,

hargai waktu yang tersisa,

jalani hidup dengan penuh rasa syukur dan kebahagiaan.


Selalulah berbuat baik,

Selalulah menolong sesamamu,

Jangan pernah bersikap paling benar, dan berhentilah membicarakan kejelekan orang lain dan mengomel.


Nikmatilah hidup dan isi setiap detik, menit, jam, dan hari-harimu dengan kebaikan terutama pasangan hidup, bersama keluarga; ayah dan ibumu, jika mereka masih hidup muliakan mereka; anak-anakmu, saudaramu, handai-taulan, bahagiakan mereka semua selagi kamu masih punya waktu.


Lanjut usia adalah keniscayaan.Tidak ada yg bisa menolak nature untuk menjadi tua, terjadi perubahan anatomi. Tapi meski sudah lansia, kulit berubah menjadi keriput, rambut kepala menipis dan memutih semua, namun tetap berguna bagi diri sendiri dan sesama, yaitu Lansia yang senantiasa memancarkan aura cerah dan menarik, energik dan simpatik.


Jadilah Lansia yang memiliki ke 6 hal ini:

Pikiran yang tenang

Hati yang damai

Jauh dari kepura puraan

Tulus ikhlas ketika berbicara

Memberi sapaan dengan hati yang tulus

Menerapkan hidup berbagi

Back to nature,

maka pikiran dan batin kita akan bersih dari segala energy negative. Dari hati yang damai, akan terpancar aura yang mampu menebarkan kesejukkan dan kedamaian, dimanapun kita berada.


Jangan simpan kebencian, dendam, kepahitan dan kejelekan orang lain.


Lihatlah Kebaikan...Lupakan Kesalahan..


Tetaplah menjadi orang baik sampai akhir hidup

Bila sahabat atau saudaraku pernah menyakiti hatiku, aku sudah maafkan semua......

karena PERJALANAN hidup KITA TERLALU SINGKAT.

Saturday, 15 August 2020

Janda Tua Yang Hampir Pensiun

Nama saya Wahyu Sukma Muhardiansyah, S.Pd, M.Pd. Tadinya saya adalah guru IPS di SMPN 12 Kecamatan Bandar. Sesuai dengan SK dari dinas, mulai hari ini 15 Juli 2019 saya ditugaskan di sini sebagai kepala sekolah menggantikan bapak Drs. Suheri yang telah diangkat menjadi pengawas sekolah. Mohon kepada rekan-rekan semua agar bisa bekerja sama membina dan memajukan sekolah kita tercinta ini, SMPN 5 Satu Atap Bandar"


Laki-laki tampan berkharisma itu mengedarkan pandangan ke seluruh guru dan tenaga kependidikan di hadapannya. Ada yang mengangguk-angguk, ada yang menatap tak berkedip dan banyak yang berbisik-bisik.


"Wuaa...tampan sekali," Bu Via sang guru matematika yang biasanya pendiam dan masih single berdecak kagum.


"Masih muda lagi. Masih 33 euy udah jadi kepala sekolah," Miss Tika sang guru Bahasa Inggris menimpali.


"Wajar. Aku intip berkas beliau di ruang  TU, beliau adalah lulusan terbaik di kampusnya, menyelesaikan S2  cuma setahun, terpilih  sebagai guru teladan. Dan...yang paling  penting, statusnya belum menikah," Bu Endang menyahut sambil mengedipkan sebelah mata.


Hanya beberapa guru laki-laki yang tak berkomentar. Guru perempuan baik tua maupun muda semua kasak-kusuk dan pasang tampang semanis mungkin. Satu-satunya guru perempuan yang mendengarkan serius sambil menatap seperlunya hanya Bu Yus yang duduk di kursi paling pojok.


Mungkin karena paling sepuh makanya tak tertarik wajah bening berwibawa di depan. Toh tahun depan sudah 60 usia Bu Yus. Tahun depan Bu Yus pensiun.


Sang bapak kepala sekolah berdehem. Suasana mendadak senyap. Lebih senyap lagi ketika pandangan mata bapak kepala sekolah tampan itu berhenti pada sosok Bu Yus. Beliau menatap Bu Yus cukup lama dengan pandangan yang susah dimengerti. Guru-guru lain saling pandang.


Tiba-tiba bapak kepala sekolah mengakhiri pertemuan. Sebelum pergi ke ruangannya, bapak kepala sekolah mendekati kursi Bu Yus lalu dengan sangat sopan dan hati-hati meminta Bu Yus ikut ke ruangannya.

****


Enam bulan kemudian....

Seperti biasa pukul 07.15 bapak kepala sekolah berkeliling sebentar menyapa murid-murid dan mengecek kondisi semua fasilitas sekolah termasuk kantin, tempat pembuangan sampah, bahkan toilet. Jika ada yang perlu diperbaiki atau diganti, bapak kepala sekolah dengan sigap menanganinya.


Beliau memang tidak terlalu banyak bicara sehingga nampak berwibawa, tapi beliau tidak sombong sehingga memiliki kharisma tersendiri. Hal ini menjadikan bapak kepala sekolah menjadi idola semua murid SMP yang baru beranjak remaja bahkan juga idola guru-guru, terutama siswa dan guru perempuan.


Tapi siapapun sepakat, sepertinya bapak kepala sekolah hanya tertambat pada satu perempuan. Bu Yus.


Seperti pagi ini, selesai berkeliling, bapak kepala sekolah masuk ke ruang guru. Ternyata beliau membawakan beberapa kotak roti untuk sarapan guru-guru. Beliau segera meminta Bu Lilis yang menjabat tata usaha di SMPN 5 Satu Atap Bandar untuk membagikannya kepada semua guru. Khusus untuk Bu Yus, bapak kepala sekolah menyerahkannya sendiri dengan sangat lemah lembut lengkap dengan minuman dan serantang nasi lengkap untuk makan siang.


"Terimakasih, Pak. Seharusnya bapak tidak usah repot-repot membawakan saya makanan sebanyak ini. Saya sudah tua. Ini terlalu banyak buat saya," Bu Yus berkata sambil tersenyum.


"Huhh! Bibir yang tak pernah berlipstik dan muka keriput itu, kenapa bisa lebih menarik daripada kita-kita yang masih bening gini?" Gerutu Bu Endang setengah berbisik.


"Sia-sia aku kredit skincare mahal. Tetap aja Bu Yus yang sudah tua itu yang dikasih perhatian lebih," sungut Miss Tika sambil mencomot bolu gulung yang baru dihidangkan Bu Lilis.


Sementara bapak kepala sekolah masih menatap Bu Yus sambil tersenyum.


"Tidak apa-apa, Bu. Saya tidak repot. Ibu jangan terlalu capek. Jika ada siswa yang bermasalah, ibu bisa minta bantuan saya kapanpun," ucap bapak kepala sekolah lembut. Bu Yus menarik nafas lalu tersenyum dan mengangguk.


"Terimakasih, Pak" ucap Bu Yus sopan.

****


Kasak kusuk bahwa bapak kepala sekolah mencintai Bu Yus sang guru senior yang sudah sangat tua dan tinggal menghitung hari akan pensiun semakin memanas.


Kalimat mempertanyakan bahkan menuduh yang tidak-tidak kerap menjadi gosip di kalangan guru-guru bahkan juga mulai menyebar di kalangan siswi yang mengidolakan Pak Wahyu Sukma Muhardiansyah sang kepala sekolah tampan dan populer.


Terkadang sindiran pedas sering terlontar langsung pada Bu Yus.


Seperti pagi ini....

"Bu Yus, pantangan ibu apa sih?," Miss Tika bertanya serius.


"Pantangan apa maksudnya, Miss?" Bu Yus balik bertanya sambil meletakkan pulpennya yang tadi di gunakan untuk mengisi catatan piket.


"Ya...pantangan. Sesuatu yang gak boleh dilanggar agar ibu kelihatan cantik walau sudah tua"


Bu Yus tertawa. Dia tidak tahu apakah itu pertanyaan atau hinaan.


"Tidak ada pantangan saya yang seperti itu, Miss. Dokter hanya melarang saya begadang dan bekerja terlalu berat karena saya sudah tua. Bulan depan saya genap 60 tahun. Sudah rentan penyakit"


Di lain waktu....

"Maaf, Bu. Permisi, saya mau lewat" Bu Yus sedikit membungkuk ketika melewati Bu Via, Bu Lilis dan Bu Endang yang tengah ngobrol ketika jam istirahat.


"Duh. Bu Yus jangan senyum ke arah kami dong. Nanti kami kena pengaruh pelet Bu Yus," sungut Bu Via. Bu Via masih mangkel karena tak sengaja melihat bapak kepala sekolah memberikan bakal baju pada Bu Yus. Tadinya Bu Via berencana mengadu ke kepala sekolah tentang muridnya yang sudah seminggu tidak hadir tanpa keterangan dan ketika di datangi rumahnya ternyata kosong. Tak ada siapapun di sana dan tak seorangpun yang tahu keberadaan murid tersebut. Tapi dari balik pintu ruang kepala sekolah, tak sengaja Bu Via mendengar pembicaraan bapak kepala sekolah yang memberikan bakal baju kepada Bu Yus.


"Saya tak pakai pelet, Bu. Ibu ada-ada saja," Bu Yus tertawa kecil.

****


Hari ini adalah hari terakhir Bu Yus bertugas. Bapak kepala sekolah membentuk panitia untuk acara perpisahan dengan Bu Yus.


Bu Yus tak banyak berkata-kata ketika di podium. Air matanya menderas sempurna di pipinya yang keriput. Hanya ucapan terimakasih, maaf dan pesan singkat pada murid-muridnya.


Beberapa murid memberi ucapan perpisahan dan kenang-kenangan kepada Bu Yus. Perwakilan guru-guru juga melakukan hal yang sama.


Hampir semua perpisahan memberi nuansa sedih dan haru. Begitu juga perpisahan dengan Bu Yus hari ini.


Tapi tak ada yang lebih mengharukan selain ketika bapak kepala sekolah memberi kata sambutan di podium.


Beliau berdiri lama tanpa kata-kata. Berkali-kali menarik nafas berat dan menahan air mata. Walau setetes akhirnya jatuh juga di wajah tampannya yang berwibawa.


Ketika akhirnya beliau berkata-kata dengan suara seraknya yang terputus-putus, semua diam dalam isakan.


"....jika saja halal bagi saya, saya ingin memeluk dan mencium Bu Yus. Berterimakasih dan meminta maaf. Dengan perantaraan beliaulah saya berdiri di sini. Saya bisa menyelesaikan pendidikan dan bisa sesukses sekarang. Saya ingin menciumi tangan keriputnya, sepasang tangan luar biasa yang menampar saya di hari kematian ibu saya ketika saya katakan saya tak mau sekolah lagi. Tangan yang saya patahkan karena marah saat itu, tapi kemudian mengusap kepala saya dan mengatakan bahwa almarhumah ibu saya menunggu kesholehan saya, kesuksesan saya...."


"....Saya ingin memeluk Bu Yus yang dengan gaji honornya 60 ribu per bulan dua puluh tahun lalu setiap hari membawakan saya sarapan, membelikan saya makan siang dan mengantar makan malam saya ke rumah, saat bahkan ayah saya tak peduli dan memilih menikah lagi ketika makam ibu saya masih merah dan basah"


"Guru kalian yang luar biasa ini, anak-anakku, adalah guru bapak dulu sampai sekarang. Bahwa beliau bukan hanya mengajarkan pengetahuan, tapi juga mendidik bapak arti hakiki kehidupan..."


"Tangan kanan beliau yang kalian sering ejek dengan kata pengkor, tangan yang tak lurus dan mengecil itu, adalah tangan luar biasa yang bapak patahkan dua puluh tahun lalu karena menampar bapak dalam rangka mendidik bapak. Padahal seandainya tangan itu tak menampar bapak, tangan itu mungkin masih sempurna baik-baik saja kini, tapi mungkin bapak juga tak berdiri di sini. Mungkin bapak akan jadi gelandangan seperti kebanyakan orang putus asa lainnya...."


"Beliau adalah orang yang menyekolahkan bapak dulu, padahal beliau bukanlah guru bapak yang paling kaya saat itu...."


"Ketika wisuda, bapak pulang kampung mencari beliau di sekolah bapak dulu. Tapi tak bertemu. Tahun lalu, tak sengaja bertemu beliau lagi yang ternyata mengabdi di sini...."


"Bu, terimakasih atas pengabdian, cinta dan ketulusanmu pada kami murid-murid mu..."


"Kami, murid-murid mu yang telah banyak menyusahkan mu. Semoga berkah hidupmu, wahai guruku"


Bapak kepala sekolah menutup kata sambutannya dengan suara seraknya sambil berlutut. Serentak perlahan seluruh siswa berlutut. Seluruh guru menangis dengan perasaannya masing-masing.


Bu Yus yang sederhana tersenyum sambil bersimbah air mata 😭😭